Di sebuah lembah yang dipeluk gunung-gunung sunyi, hiduplah seorang lelaki bernama Ardan. Ia pernah percaya bahwa hidup adalah sebuah jalan panjang yang dapat ditaklukkan oleh kaki yang kuat, pikiran yang tajam, dan hati yang tidak mengenal takut.
Namun, waktu mengajarinya sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh buku-buku: bahwa seseorang dapat berjalan begitu jauh, tetapi semakin jauh pula ia meninggalkan dirinya sendiri.
Ardan memiliki segalanya yang dahulu ia impikan. Ia memiliki rumah, pekerjaan, dan orang-orang yang menyebut namanya dengan penuh harapan. Tetapi di balik pintu rumahnya yang kokoh, ada sebuah ruang kosong di dalam dada yang tak mampu diisi oleh apa pun. Ia tertawa ketika orang lain tertawa, berbicara ketika orang lain berbicara, dan mengangguk seolah-olah ia memahami tujuan dari semua perjalanan ini.
Padahal, diam-diam, ia telah kehilangan arah.
Bukan arah menuju sebuah kota, bukan jalan menuju sebuah rumah, melainkan arah yang menunjukkan kepadanya mengapa ia harus tetap melangkah.
Setiap malam, ia bertanya kepada langit, “Wahai langit, mengapa aku merasa begitu jauh, padahal aku tidak pernah meninggalkan tempatku? Mengapa hatiku seperti seorang pengembara yang tidak mengenal tanah kelahirannya sendiri?”
Tetapi langit hanya membentangkan bintang-bintangnya, dan malam tetap menjadi malam.
Suatu hari, setelah kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya, Ardan meninggalkan rumah tanpa tujuan. Ia berjalan melewati ladang-ladang yang menguning, menembus hutan yang lebat, hingga tiba di sebuah jalan kecil yang bercabang tiga. Ia memilih jalan yang paling gelap, sebab pada saat itu ia merasa bahwa kegelapan lebih jujur daripada cahaya yang telah lama membohonginya.
Hari berganti senja. Senja berganti malam.
Angin berembus membawa hawa dingin, sementara pepohonan berdiri seperti penjaga-penjaga bisu yang tidak mengenal belas kasihan. Ardan terus berjalan, meskipun ia tidak lagi mengetahui ke mana kakinya hendak membawanya.
Ketika hujan turun, ia mencari tempat berteduh. Namun, tanah yang licin merenggut keseimbangannya. Ia terjatuh ke lereng berbatu, tubuhnya tergores, dan napasnya tersengal-sengal. Di hadapannya terbentang jurang yang gelap, sedangkan di belakangnya, jalan yang tadi dilaluinya telah lenyap ditelan kabut.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ardan menyadari bahwa ia benar-benar tidak berdaya.
Ia, yang dahulu begitu yakin dapat mengendalikan nasibnya, kini bahkan tidak mampu memastikan apakah esok pagi masih akan menyentuh wajahnya.
Ia mencoba bangkit, tetapi kakinya gemetar. Ia memanggil seseorang, tetapi suaranya tenggelam di antara gemuruh hujan. Ia menangis, bukan semata-mata karena rasa sakit pada tubuhnya, melainkan karena seluruh kesombongan yang selama ini ia pelihara telah runtuh di hadapan kesunyian.
“Adakah seseorang yang mendengar aku?” teriaknya.
Hanya gema yang kembali.
Ardan menengadah. Awan hitam menutup langit, dan tak satu pun bintang terlihat. Ia merasa seolah-olah seluruh alam semesta telah memalingkan wajah darinya.
Lalu, di tengah keputusasaan itu, sebuah pertanyaan muncul dari kedalaman jiwanya.
Jika aku tidak mampu menyelamatkan diriku sendiri, kepada siapa lagi aku harus meminta pertolongan?
Ia teringat kepada masa kecilnya, ketika ibunya menggenggam tangannya dan mengajarkannya berdoa. Dahulu, ia mengucapkan doa seperti seorang anak yang mengulang kata-kata tanpa memahami maknanya. Setelah dewasa, ia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa ada pintu yang tidak pernah tertutup, bahkan ketika seluruh pintu di bumi telah terkunci.
Maka, dengan tubuh yang lemah dan hati yang remuk, ia menundukkan kepalanya.
“Ya Tuhan,” bisiknya, “aku telah berjalan begitu jauh untuk menemukan kebahagiaan, tetapi aku justru kehilangan diriku sendiri. Aku telah percaya kepada kekuatanku, tetapi kini kekuatanku tidak mampu menolongku. Aku tidak tahu jalan pulang. Aku tidak tahu bagaimana memperbaiki hidupku. Jika masih ada kasih-Mu untuk seorang pengembara sepertiku, tunjukkanlah kepadaku satu langkah saja.”
Ia berhenti sejenak. Air hujan membasahi wajahnya, bercampur dengan air mata yang tak lagi mampu ia tahan.
“Aku tidak meminta agar seluruh kesulitanku lenyap. Aku hanya memohon agar aku tidak berjalan sendirian dalam kegelapan ini. Ambillah kesombongan yang membuatku merasa mampu melakukan segala sesuatu tanpa-Mu. Ajari aku kembali untuk percaya, bahkan ketika mataku tidak melihat jalan.”
Malam itu, tidak ada petir yang membelah langit untuk memberinya jawaban. Tidak ada suara dari surga yang menyebut namanya. Jurang itu tetap berada di hadapannya, dan luka-lukanya masih terasa perih.
Namun, sesuatu yang perlahan-lahan telah mati di dalam dirinya mulai bergerak kembali.
Bukan keadaan di sekelilingnya yang berubah terlebih dahulu, melainkan cara ia memandang keadaan itu.
Untuk pertama kalinya, Ardan berhenti memaksa dirinya menjadi kuat. Ia mengakui bahwa ia takut. Ia mengakui bahwa ia membutuhkan pertolongan. Dan ia mengerti bahwa berserah diri bukanlah menyerah kepada kehancuran, melainkan melepaskan kesombongan agar tangannya dapat menerima pertolongan.
Dengan sisa tenaga, ia merangkak menjauh dari tepi jurang. Ia berlindung di bawah sebuah batu besar, mengikat lukanya dengan kain dari pakaiannya, lalu beristirahat sambil terus berdoa.
Menjelang fajar, hujan berhenti.
Dari kejauhan terdengar suara manusia memanggil-manggil. Ardan mengangkat kepalanya, mengumpulkan napas, lalu berteriak sekuat yang ia bisa. Suaranya lemah, tetapi kali ini ia tidak berhenti memanggil.
Beberapa saat kemudian, dua orang pencari kayu muncul dari balik pepohonan. Mereka mendengar suaranya dan bergegas menghampirinya. Dengan hati-hati, mereka membantunya berdiri, menopang tubuhnya, lalu membawanya menuju sebuah permukiman kecil.
Di sana, Ardan mendapatkan tempat beristirahat, makanan, dan perawatan bagi luka-lukanya. Hari-hari berikutnya ia habiskan untuk memulihkan diri. Tubuhnya perlahan sembuh, tetapi perubahan yang paling besar terjadi di dalam hatinya.
Ia mulai memahami bahwa pertolongan Tuhan tidak selalu datang sebagai keajaiban yang menggetarkan langit. Kadang-kadang, pertolongan itu datang melalui tangan orang asing, melalui keberanian untuk meminta bantuan, melalui sebuah kesempatan kecil yang hampir kita abaikan, atau melalui kekuatan untuk bertahan satu hari lagi ketika kita merasa tidak sanggup.
Ardan pun menyadari bahwa selama ini ia keliru memahami arti kehidupan. Ia mengira bahwa hidup berarti selalu mengetahui ke mana harus pergi. Ia mengira bahwa orang yang kuat adalah orang yang tidak pernah tersesat, tidak pernah menangis, dan tidak pernah meminta pertolongan.
Kini ia tahu, manusia bukanlah matahari yang harus menerangi seluruh jalannya sendiri. Manusia hanyalah pengembara yang membutuhkan cahaya, dan terkadang cahaya itu baru terlihat ketika ia berani mengakui bahwa dirinya sedang berada dalam kegelapan.
Beberapa bulan kemudian, Ardan kembali ke rumahnya.
Rumah itu masih sama. Pepohonan masih tumbuh di halaman, jendela masih terbuka ke arah timur, dan angin pagi masih membawa aroma tanah yang basah. Tetapi lelaki yang melangkah melewati ambang pintunya bukan lagi lelaki yang dahulu pergi.
Ia tidak lagi menuntut kehidupan agar selalu berjalan sesuai keinginannya. Ia belajar menerima kehilangan tanpa membiarkan kehilangan mengubur seluruh harapannya. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, mencintai dengan lebih tulus, dan menyediakan waktu untuk mendengarkan kesedihan orang lain.
Apabila seseorang datang kepadanya dengan wajah putus asa, Ardan tidak segera memberinya nasihat. Ia akan duduk di samping orang itu, mendengarkan tanpa menghakimi, lalu berkata dengan suara yang lembut:
“Jangan malu karena engkau tersesat. Bahkan burung yang mengenal langit pun terkadang kehilangan arah ketika badai datang. Berhentilah sejenak, akuilah bahwa engkau membutuhkan pertolongan, lalu mintalah kepada Tuhan kekuatan untuk mengambil langkah berikutnya. Jangan menunggu seluruh jalan terlihat sebelum engkau berani berharap.”
Dan setiap pagi, sebelum memulai pekerjaannya, Ardan berdiri menghadap cahaya matahari yang perlahan-lahan muncul dari balik perbukitan.
Ia tidak lagi berdoa agar hidupnya bebas dari badai. Ia berdoa agar hatinya tidak melupakan Tuhan ketika langit cerah, dan tidak kehilangan kepercayaan ketika langit kembali gelap.
Sebab ia telah belajar bahwa kehidupan tidak selalu mengembalikan seseorang kepada keadaan yang sama seperti sebelum ia terluka. Terkadang, kehidupan memberinya sesuatu yang jauh lebih berharga: jiwa yang telah mengenal batasnya, hati yang telah belajar merendah, dan mata yang mampu melihat harapan di tempat yang dahulu hanya dipenuhi keputusasaan.
Pada suatu pagi, ketika embun masih bergantung di ujung daun, Ardan berbisik kepada dirinya sendiri:
“Dahulu aku meminta kepada Tuhan agar Dia menunjukkan jalan yang harus kutempuh. Kini aku memahami bahwa tidak setiap jalan akan diterangi sejak awal. Ada kalanya aku harus melangkah dengan iman, berhenti dengan kerendahan hati, dan meminta pertolongan ketika kekuatanku berakhir.
Sebab aku tidak kembali hidup ketika aku berhasil menguasai dunia. Aku kembali hidup ketika aku berhenti berpura-pura menjadi penguasa atas segala sesuatu, lalu menyerahkan hatiku kepada Dia yang mengetahui jalan pulang, bahkan ketika aku sendiri telah melupakannya.”
Angin berembus lembut, menggoyangkan dedaunan di atas kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ardan tidak merasa sedang dikejar oleh waktu, tidak merasa harus membuktikan sesuatu kepada dunia, dan tidak merasa sendirian di tengah luasnya kehidupan.
Ia hanya berdiri di sana, bernapas, bersyukur, dan membiarkan pagi menyentuh wajahnya.
Ia telah menemukan jalan pulang.
Bukan karena ia tidak pernah tersesat lagi, melainkan karena kini ia tahu kepada siapa ia harus berpaling ketika kehilangan arah.
Pesan cerita
Ada saatnya manusia harus kehilangan jalan agar ia menyadari bahwa dirinya tidak diciptakan untuk berjalan dengan kesombongan semata. Meminta pertolongan bukanlah tanda kelemahan, dan berserah diri bukanlah akhir dari perjuangan. Justru ketika manusia mengakui keterbatasannya, memohon kepada Sang Pencipta, dan tetap berani mengambil langkah yang benar, di sanalah kehidupan dapat tumbuh kembali dari reruntuhan jiwanya.
